DOMPU – Ketika sembilan Kabupaten dan Kota telah memtangkan persiapan untuk menghadapi perlombaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), justru Kabupaten Dompu sedang terengah berpacu untuk menyelesaikan seleksi MTQ tingkat bawah. Dengan rentang waktu yang hanya menghitung hari, Kabupaten Dompu tengah menghadapi tantangan ganda yakni berkaitan dengan administrasi yang ketat dan misi regenerasi kafilah.

Plt. Sekda Dompu, H. Khaerul Insan SE. MM., kepada wartawan, Rabu 15/04 menjelaskan bahwa, jadwal resmi pelaksanaan MTQ Tingkat Provinsi NTB akan dihelat pada minggu pertama Juni 2026. Akan tetapi tahapan pendaftaran para peserta (Qori dan Qori’ah) sebenarnya dibuka jauh lebih awal. Proses pendaftaran lanjut Sekda, bisa dilakukan daring (online) yang dijadwalkan mulai tanggal 25 hingga 30 April.
Hari ini lanjut Sekda, di Kabupaten Dompu secara serentak tengah digelar MTQ tingkat Kecamatan yang dijadwalkan akan selesai antara 3 hingga 4 hari. “Setelah ini akan dihelat MTQ tingkat Kabupaten Dompu,” tukasnya.
Informasi yang dihimpun wartawan, keterlmbatan ini menempatkan panitia pada posisi “lampu kuning”. Manakala gelaran tingkat kabupaten tidak segera tuntas sebelum tanggal 25 April, maka Kabupaten Dompu terancam kehilangan hak administratif untuk mendaftarkan qori dan qori’ah terbaiknya ke event MTQ tingkat provinsi NTB.
Menyukseskan pelaksanaan MTQ tingkat kabupaten Dompu, kini ada di pundak Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten. Mereka hanya memiliki waktu efektif kurang dari 10 hari untuk merampungkannya sebelum tenggat waktu pendaftaran di MTQ tingkat provinsi NTB ditutup.
Ada hal baik, kendati pelaksanaan MTQ tingkat Kecamatan terkesan terburu-buru namun, ada anomali positif di balik keterlambatan ini. MTQ tingkat kecamatan yang dilaksanakan secara serentak ternyata menjadi snjata ampuh untuk memberantas praktik “naturalisasi” Qori dan Qori’ah.
Dalam gelaran tahun-tahun sebelumnya, sering ditemukan fenomena peserta atau Qori dan Qori’ah yang gagal juara di suatu Kecamatan kemudian dengan mudahnya kembali mendaftarkan diri untuk ikut berkompetisi di kecamatan lain yang jadwalnya berbeda demi mengincar posisi juara.
“Strategi MTQ serentak ini menutup ruang gerak bagi para pencari peluang. Mereka tidak punya waktu untuk ‘lompat pagar’ karena kompetisi berlangsung di jadwal yang sama,” ujar mereka yang peduli dengan perkembangan talenta baru di seni baca Al-Qur’an ini.
Menurut mereka, dampak positif dari ketegasan jadwal ini mulai terlihat, yakni hilangnya peluang bagi wajah-wajah lama untuk memonopoli banyak kecamatan, pintu bagi talenta-talenta baru dari desa-desa terpencil kini terbuka lebar.
Mulai bermunculan qori dan qori’ah muda yang sebelmnya tenggelam oleh dominasi nama-nama besar. Tentu saja di setiap desa akan dipaksa memaksimalkan potensi putra daerah sendiri tanpa berharap pada “Qori, Qori’ah pinjman”. Hal yang paling menggembirakan lagi adalah kemudahan bagi panitia kabupaten dalam memetakan kekuatan asli daerah untuk pembinaan jangka panjang. (Idin)
21,343 total views, 16 views today







