MATARAM — Tiga hari. Lima belas cabang olahraga. Dua ratus lima puluh wartawan dari sepuluh kabupaten dan kota. Untuk satu mimpi yang sama yakni, podium tertinggi di Pekan Olahraga Wartawan Nasional (PORWANAS) Lampung.
Pekan Olahraga Wartawan Daerah (PORWARDA) PWI Provinsi Nusa Tenggara Barat resmi akan digelar pada 26 hingga 28 Juni 2026, sebuah hajatan olahraga yang tidak semata adu fisik di lapangan, melainkan tangga menuju kejayaan yang lebih besar di panggung nasional.
Dari Peringkat 17 Hingga ke Ketiga
Untuk memahami mengapa PORWARDA tahun ini terasa begitu berbeda, seseorang perlu menengok ke belakang, ke sebuah momen di PORWANAS Banjarmasin yang mengubah segalanya.
Bayangkan sebuah kontingen yang dua periode lalu masih bertengger di peringkat ke-17 dari seluruh provinsi se Indonesia. Lalu, dalam satu siklus perjuangan, kontingen itu melesat menembus batas yang tidak pernah ada dalam imajinasi siapapun sebelumnya, NTB melejit di peringkat ketiga nasional.
Dengan total 15 medali, 4 emas, 2 perak, dan 9 perunggu, PWI NTB membuktikan bahwa Bumi Gora bukan hanya pelengkap peta persaingan olahraga wartawan nasional. Kalimantan Selatan sebagai tuan rumah memang tampil dominan di puncak, diikuti Jawa Barat di posisi kedua. Kemudian NTB berdiri kokoh di tempat ketiga dan tidak ada yang bisa meremehkannya.
Mereka adalah Pahlawan Medali
Dari raihan angka-angka itu, ada wajah dan cerita nyata. Zulkarnaen adalah nama yang akan lama dikenang. Berlari di lintasan nomor 5.000 Meter Putra, dia bukan cuma memenangkan sebuah lomba ketika melewati garis finis sebagai yang tercepat. Tetapi dia mencatatkan kisah tentang, medali emas pertama dalam sejarah kontingen NTB di PORWANAS. Sebuah momen yang terasa lebih besar dari sebatas kompetisi atletik biasa.
Kemudian di arena berbeda, Darwis tampil memukau di meja Domino. Dengan ketenangan dan ketepatan kalkulasi yang diasah dari ritme kerja jurnalistik sehari-hari, dia meraih emas di kategori Domino Perorangan Berdikari Terbuka.
Papan catur menjadi lahan paling subur bagi NTB. H. M. Nasir tampil penuh perhitungan di Catur Cepat Perorangan, mengamankan emas dengan permainan yang membungkam lawan-lawannya satu per satu. Sementara H. Abdul Muis memilih jalur yang lebih dramatis, Catur Kilat Perorangan, format yang menuntut pikiran bergerak secepat deadline berita yang selalu membayangi meja redaksi.
Dua medali perak melengkapi koleksi NTB. Tim beregu Balogo putra, Fajar Rachmat, Zakaria, dan Obby Teja Sumantri, mereka berjuang sebagai satu unit yang solid. Perak kedua datang dari Catur Cepat Beregu, perjuangan H. Abdul Muis, Imam Taufik, H. M. Nasir, dan Ardianto bermain sebagai kesatuan yang saling mengisi, membuktikan bahwa kekuatan catur NTB bukan soal individu semata, melainkan ekosistem yang sehat.
Sembilan perunggu menunjukkan kedalaman kualitas yang sesungguhnya bahwa NTB mampu bersaing di level semifinal menghadapi kontingen-kontingen terkuat dari seluruh penjuru Indonesia. Abet Kamarudin menjadi sosok yang paling sering disebut dalam perayaan kontingen, tampil di lebih dari satu nomor cabang Biliar dan pulang dengan dua medali perunggu.
Kini formatnya berbeda. Lebih kompetitif. Lebih bermartabat
PORWARDA tahun ini menyimpan keistimewaan tersendiri, merupakan pertama kalinya ajang ini digelar secara resmi sebagai pekan olahraga daerah yang nyata. Sebelumnya, kegiatan serupa hanya dikemas dalam bentuk seleksi internal menuju PORWANAS, tanpa nuansa kompetisi yang menggairahkan.
Ketua PWI Provinsi NTB, Ahmad Ikliludin, menegaskan bahwa PORWARDA bukan hanya agenda tahunan yang dijalani karena kewajiban organisasi.
“PORWARDA ini adalah jembatan. Kita ingin melihat wartawan-wartawan kita bukan hanya piawai memegang pena atau kamera, tetapi juga mampu bersaing di atas papan catur dan meja domino. Prestasi di Banjarmasin sudah membuktikan bahwa kita bisa. PORWARDA ini kita jadikan ajang penyaringan untuk menemukan atlet-atlet terbaik yang akan membawa nama NTB lebih tinggi lagi di Lampung,” ujarnya.
Menurut Ahmad Ikliludin, olahraga dan jurnalisme bukan dua dunia yang terpisah. Profesi wartawan yang sarat tekanan, mobilitas tinggi, dan tuntutan kecepatan informasi kerap mengabaikan satu hal penting, kesehatan dan kebersamaan. PORWARDA hadir sebagai ruang penyeimbang antara tuntutan profesi dan kebutuhan akan rekreasi, kebugaran, serta interaksi sosial yang sehat.
“Seorang wartawan yang bugar dan memiliki jiwa sportif yang tinggi tentu akan menghasilkan karya-karya jurnalistik yang lebih berkualitas,” tambahnya.
Tak hanya itu, katanya, sehari sebelum pembukaan, pada 25 Juni 2026, digelar pula diskusi terbatas bertema kesiapan NTB menjadi tuan rumah PON 2028, sebuah agenda yang dirangkai sebagai bagian tak terpisahkan dari PORWARDA.
Menanti Panggung Lampung
Lima belas cabang olahraga dipertandingkan dalam PORWARDA 2026, bertambah satu dari rencana awal, setelah pencak silat resmi masuk dalam daftar cabang yang akan dipertandingkan di PORWANAS Lampung 2027.
Nama-nama yang telah membuktikan diri di Banjarmasin seperti Zulkarnaen, H. Abdul Muis, H. M. Nasir, Darwis, Abet Kamarudin, dan seluruh pejuang medali lainnya, kini menjadi inspirasi sekaligus standar yang harus dilampaui oleh para calon atlet baru yang bersaing di lapangan PORWARDA.
Target PWI NTB bukan sekadar mempertahankan peringkat ketiga. Jika seleksi berjalan ketat dan pembinaan konsisten, peringkat yang lebih tinggi bukan hal mustahil.
Kalimantan Selatan dan Jawa Barat memang berdiri kokoh di puncak, akan tetapi NTB telah membuktikan satu hal yang tidak bisa dibantah, mereka bukanlah pelengkap. Karenanya, dari gelanggang PORWARDA 2026 inilah, babak baru kejayaan itu mulai ditempa. (Idin)
22,079 total views, 22,079 views today










