DOMPU — Rencana penetapan lokasi pertandingan cabang olahraga selancar ombak pada Pekan Olahraga Nasional (PON) NTB-NTT 2028 memicu perdebatan sengit di lingkup olahraga bahari nasional. Spekulasi yang mengarahkan arena ke Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, berhadapan langsung dengan fakta lapangan di Pantai Lakey, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Praktisi selancar lokal menilai penunjukan venue seharusnya berpatokan pada indikator objektif, seperti kualitas ombak, rekam jejak pembinaan, efisiensi anggaran, serta kesiapan organisasi pengurus cabang.

Mantan Ketua Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) Kabupaten Dompu, Muhammad Ali, menyuarakan desakan tegas agar Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta KONI Pusat meninjau ulang rancangan venue tersebut. Dia tegaskan bahwa Lakey Peak memiliki seluruh syarat kualifikasi yang dipersyaratkan untuk ajang kelas dunia.
Laboratorium Pencetak Medali Internasional
Pantai Lakey menyimpan keunggulan jauh melampaui garis pantai bertipikal gelombang tinggi biasa. Karakter ombaknya yang terkenal dengan sebutan gelombang kembar menjadikannya laboratorium alami bagi peselancar nasional. Karakter gulungan ombak yang konsisten pecah ke kiri dan ke kanan memberikan ruang akselerasi sempurna bagi para atlet untuk melatih manuver udara maupun barrel ride.
Hasil dari laboratorium alami ini terlihat nyata pada lemari piala Indonesia. Dua nama besar lahir dan dibesarkan oleh gulungan ombak Dompu. One Anwar berhasil mengibarkan bendera Merah Putih dengan menyabet medali emas pada ajang SEA Games. Sementara itu, Bronson Meydi membuktikan ketajaman tekniknya dengan merebut medali emas di ajang Asian Games.
“Pantai Lakey ini sudah melahirkan juara-juara dunia. Prestasi ini seharusnya jadi pertimbangan serius bagi KONI Pusat dan Kementerian Pemuda dan Olahraga,” tegas Ali.

Menurut Ali, cara terbaik memberikan penghormatan atas keringat para peraih emas tersebut adalah menjadikan markas latihan mereka sebagai panggung resmi PON 2028.
Di samping rekam jejak atlet, kalkulasi finansial menjadi argumen krusial yang ditawarkan Lakey Peak. Menyelenggarakan ajang olahraga sekelas PON memerlukan fasilitas pendukung yang presisi. Di Pantai Lakey, infrastruktur utama berupa tower pemantau atau menara wasit sudah berdiri tegak dan sering dipakai untuk kejuaraan lokal maupun regional.
Kondisi fisik menara juri tersebut masih sangat kokoh. Katanya, lokasi ini hanya membutuhkan sentuhan pembenahan ringan untuk memenuhi standar kompetisi PON.
“Kita sudah punya tower wasit di lepas Pantai Lakey. Yang dibutuhkan cuma rehab kecil, itu pun anggarannya tidak akan menghabiskan lebih dari 100 juta rupiah. Ini jauh lebih efisien dibanding membangun fasilitas baru dari nol di tempat lain,” paparnya.
Jurang Kesiapan Kelembagaan dan Induk Cabang Olahraga
Faktor penentu yang sering terabaikan dalam pemilihan venue adalah kesiapan organisasi pengelola di tingkat lokal. Keberhasilan kompetisi selancar tingkat nasional sangat bergantung pada ketersediaan SDM, hakim garis, lifeguard, serta pengurus daerah yang paham regulasi kejuaraan.
Kabupaten Dompu memegang keunggulan mutlak di sektor ini. Pengurus Kabupaten PSOI Dompu telah terbentuk resmi, aktif menjalankan roda organisasi, dan terbiasa memfasilitasi kejuaraan. Sebaliknya, wilayah Rote Ndao maupun Provinsi NTT secara keseluruhan masih mengalami kekosongan struktur organisasi induk selancar ombak.
“Lakey, Kabupaten Dompu, sudah punya kepengurusan PSOI. Rote Ndao belum punya pengurus PSOI, bahkan NTT secara keseluruhan belum ada kepengurusan PSOI. Bagaimana mungkin sebuah daerah tanpa organisasi cabang olahraga yang jelas mau ditetapkan sebagai venue nasional,” kritik Ali.
Kekosongan induk organisasi di daerah penyelenggara berpotensi memicu kendala teknis saat pelaksanaan. Ketiadaan struktur resmi juga dapat menghambat keberlanjutan pembinaan atlet lokal setelah perhelatan PON usai.
Pengakuan Komunitas Selancar Global
Satu hal yang tidak bisa dibeli dengan anggaran adalah reputasi internasional. Lakey Peak sudah puluhan tahun masuk dalam roadmap para peselancar mancanegara. Merek dan klub selancar papan atas dunia seperti Billabong, Quiksilver, RipCurl hingga O’Neill secara berkala memboyong tim profesional mereka untuk menggelar eksibisi serta pemotretan komersial di ombak Lakey.
“Sejumlah klub surfing dunia, termasuk Billabong, Quiksilver, dan O’Neil, sudah berkali-kali datang dan menggelar eksebisi di Lakey. Ini menunjukkan kualitas ombak Lakey Peak memang ombak kelas event dunia, layak untuk PON,” tambah Ali.
Konsistensi kedatangan merek-merek raksasa industri surfing ini menjadi bukti sahih bahwa karakter ombak Lakey Peak siap menggelar persaingan tingkat tinggi tanpa risiko kegagalan teknis akibat faktor alam.
Mendesak Langkah Politik Olahraga NTB
Agar usulan ini tidak berhenti sebagai wacana sepihak, Ali meminta pemangku kebijakan di Provinsi NTB bergerak cepat melakukan diplomasi olahraga di tingkat pusat. Menteri Pemuda dan Olahraga beserta Ketua KONI Pusat diharapkan membuka pintu dialog untuk meninjau kembali draf penetapan venue.
Secara khusus, Ali mengarahkan tumpuan harapannya kepada jajaran eksekutif dan legislatif NTB, termasuk Ketua KONI NTB Mori Hanafi yang juga menduduki kursi anggota DPR RI.
“Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, juga kepada Ketua KONI NTB sekaligus anggota DPR RI Mori Hanafi, saya minta agar berbicara banyak di pemerintah pusat terkait hal ini,” cetus Ali.
Keputusan akhir mengenai lokasi venue surfing PON 2028 akan menjadi tolok ukur profesionalisme tata kelola olahraga nasional. Akankah penetapan arena didasarkan pada kesiapan teknis, efisiensi anggaran, dan rekam jejak prestasi, ataukah pertimbangan kompromi kewilayahan yang mengorbankan kualitas kompetisi? Publik olahraga Indonesia kini menunggu keputusan tegas dari Kemenpora dan KONI Pusat. (Idin)
25,337 total views, 25,337 views today










