Dompu — Harga cabai rawit merah di Pasar Bawah Dompu melonjak tajam pada penghujung Juli 2026. Dalam sepekan terakhir bulan itu, komoditas favorit dapur rumah tangga ini naik dari Rp40.000 menjadi Rp60.000 per kilogram, atau melompat 50 persen hanya dalam tujuh hari. Data resmi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Dompu mencatat lonjakan itu terjadi antara pemantauan 24 Juli dan 31 Juli 2026.
Laporan harian pasar yang disampaikan Kepala. Dinas Perindustrian dan Persagangan Kabupaten Dompu, Armansyah pada 31 Juli menguatkan temuan tersebut. Harga cabai rawit merah tercatat Rp 56.667 per kilogram, naik dari Rp 40.000 pada hari sebelumnya, setara kenaikan 41,7 persen dalam sehari.
Selisih angka antara data mingguan dan harian wajar terjadi karena data harian merupakan rata-rata dari beberapa pedagang, sementara data mingguan berbasis harga acuan tunggal pada tanggal pemantauan.
Cabai merah keriting mengalami nasib serupa meski dengan kenaikan lebih moderat. Data mingguan menunjukkan harga naik dari Rp 35.000 menjadi Rp 40.000 per kilogram, setara 14,3 persen. Laporan harian mencatat kenaikan dari Rp 38.333 menjadi Rp 43.333 per kilogram. Cabai rawit hijau turut terkerek naik dalam laporan harian, dari Rp 33.333 menjadi Rp 36.667 per kilogram, sekalipun data mingguan mencatat harga komoditas ini masih bertahan di Rp 35.000.
Bawang bombai juga ikut naik. Laporan harian mencatat harga komoditas impor ini bergerak dari Rp 35.000 menjadi Rp 38.333 per kilogram, sementara data mingguan Disperindag masih menempatkannya stabil di angka Rp 35.000. Perbedaan ini kembali menegaskan bahwa fluktuasi harian di lapangan bisa lebih tajam ketimbang yang tertangkap dalam rekapitulasi mingguan.
Pola Naik-Turun Sepanjang Bulan
Menariknya, kenaikan akhir Juli ini justru merupakan pembalikan arah setelah tren penurunan yang berlangsung sejak awal bulan. Data mingguan Disperindag Dompu menunjukkan cabai rawit merah sempat berada di level Rp 60.000 per kilogram pada 3 Juli, lalu terus melandai menjadi Rp 50.000 pada 10 Juli, Rp 45.000 pada 17 Juli, dan Rp 40.000 pada 24 Juli, sebelum akhirnya melompat kembali ke Rp 60.000 pada penutupan bulan.
Cabai merah keriting menunjukkan pola pergerakan yang mirip: dari Rp 60.000 pada 3 Juli turun bertahap hingga menyentuh Rp 35.000 pada 24 Juli, sebelum kembali naik ke Rp 40.000 pada 31 Juli. Pola zig-zag semacam ini lazim terjadi pada komoditas hortikultura yang sangat bergantung pada pasokan panen, cuaca, dan jarak distribusi dari sentra produksi ke pasar konsumen seperti Pasar Bawah Dompu.
Sebagai pembanding, harga tomat justru bergerak ke arah sebaliknya. Komoditas ini terus melorot sepanjang Juli, dari Rp 15.000 per kilogram pada awal bulan menjadi hanya Rp 7.000 pada 31 Juli. Penurunan harga tomat mengindikasikan pasokan yang melimpah di tingkat petani, sementara cabai justru mengalami tekanan pasokan pada periode yang sama.
Bahan Pokok Utama Relatif Stabil
Kabar baiknya, komoditas strategis yang menjadi kebutuhan harian masyarakat luas tercatat stabil sepanjang akhir Juli. Beras Cap IR Medium bertahan di Rp 13.500 per kilogram, Beras SPHP Bulog di Rp 12.500, dan Beras Cap Lokal Premium di Rp 14.900. Harga gula pasir, baik curah maupun kemasan, juga tidak bergeser dari Rp 19.000 dan Rp 20.000 per kilogram.
Minyak goreng pun terpantau landai. Minyak goreng curah bertahan Rp 18.000 per liter, minyak kemasan premium Rp 24.000, dan Minyakita di harga eceran tertinggi Rp 15.700 per liter. Kestabilan ini turut ditopang oleh harga daging ayam ras karkas yang tetap Rp 45.000 per kilogram, telur ayam ras Rp 30.000 per kilogram, serta daging sapi yang tidak berubah pada kisaran Rp 50.000 hingga Rp 120.000 per kilogram tergantung jenis potongan.
Bawang merah, komoditas yang kerap menjadi biang kerok inflasi daerah, justru tercatat stabil di Rp 30.000 hingga Rp31.667 per kilogram sepanjang laporan harian maupun mingguan periode ini.
Catatan Bagi Konsumen
Kombinasi data harian dan mingguan Disperindag Dompu memperlihatkan bahwa tekanan harga pada akhir Juli 2026 terkonsentrasi pada kelompok cabai, sedangkan kebutuhan pokok volume besar seperti beras, minyak goreng, gula, dan protein hewani tetap terjangkau. Bagi rumah tangga di Dompu, kenaikan harga cabai rawit merah hingga 50 persen dalam sepekan tentu terasa langsung di dapur, mengingat komoditas ini masuk kategori bumbu wajib yang sulit disubstitusi.
Pemerintah daerah melalui Disperindag diharapkan terus memperbarui pemantauan harga secara berkala agar lonjakan serupa dapat diantisipasi lebih dini, misalnya melalui operasi pasar atau koordinasi distribusi dengan sentra produksi cabai terdekat, sehingga gejolak harga tidak berlangsung berkepanjangan menjelang bulan-bulan berikutnya. (Idin)
15,815 total views, 12 views today









