DOMPU – Usia remaja sejatinya menjadi masa yang riuh dengan proses pencarian jati diri dan merajut cita-cita di bangku sekolah. Namun, bagi sebagian anak perempuan di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, mimpi-mimpi itu kerap terpaksa terhenti di depan pelaminan. Pernikahan di bawah umur, yang oleh sebagian pihak mungkin masih dianggap sebagai “solusi” kehidupan, nyatanya justru menjadi gerbang pembuka menuju krisis baru yang jauh lebih gelap: stunting dan kemiskinan ekstrem.
Realitas pahit inilah yang kini tengah diperangi secara agresif oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dompu. Membawa target ambisius untuk menihilkan angka kemiskinan ekstrem pada tahun 2027 dan menurunkan prevalensi stunting yang masih bertengger di angka 19,8 persen, pemerintah daerah menyadari satu hal krusial: membagikan bantuan sosial saja tidak akan pernah cukup. Akar masalahnya harus dicabut. Dan akar itu bernama pernikahan dini.
“Pernikahan dini memicu krisis multidimensi yang saling berkaitan,” ungkap Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPP KB) Kabupaten Dompu, Daryati Kustilawati, Selasa (19/5/2026).
Perempuan yang akrab disapa Umi Yat ini menyoroti bagaimana pernikahan anak bukan sekadar urusan perubahan status di kartu keluarga, melainkan pertaruhan masa depan dan nyawa.
Secara biologis, organ tubuh dan tinggi badan remaja perempuan masih dalam tahap pertumbuhan hingga mereka menginjak usia 21 tahun. Ketika kehamilan terjadi terlalu dini, sebuah “kompetisi” gizi yang memilukan terjadi di dalam tubuh sang ibu muda. Janin dan ibunya harus berebut asupan nutrisi.
Akibatnya fatal. Kondisi ini kerap berujung pada malnutrisi, melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), dan pada akhirnya mencetak generasi stunting yang baru. Ancaman itu bahkan merenggut nyawa. “Secara medis, perempuan usia 15 hingga 19 tahun memiliki risiko kematian lima kali lebih besar saat melahirkan dibandingkan mereka yang telah berusia di atas 20 tahun,” jelas Umi Yat.
Organ reproduksi yang belum matang sempurna membuat ibu muda rentan mengalami keguguran, perdarahan hebat, hingga preeklampsia. Belum lagi risiko psikologis seperti kecemasan dan depresi yang kerap mengintai ketidaksiapan mental mereka.
Dari bilik pelaminan yang terlalu dini itu pula, kemiskinan baru lahir. Remaja yang putus sekolah terpaksa masuk ke arena kehidupan tanpa ijazah dan keterampilan yang memadai. Pasangan muda ini kemudian kerap terjebak pada pekerjaan serabutan berpenghasilan rendah. Tanpa kemandirian finansial, impian untuk memenuhi kebutuhan gizi dan pendidikan anak di masa depan menjadi sesuatu yang teramat sulit dijangkau.
Menolak menyerah pada siklus yang merugikan ini, DPP KB Dompu kini merajut jaring pengaman yang lebih kuat di tengah masyarakat. Pendekatan tidak lagi hanya dilakukan dari balik meja birokrasi.
Sebanyak 546 Tim Pendamping Keluarga (TPK) kini telah disebar ke seluruh pelosok desa dan kelurahan. Bekerja secara door-to-door, tim ini menjadi garda terdepan yang tak lelah mengedukasi masyarakat tentang bahaya pergaulan bebas, pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, serta dampak buruk pernikahan di usia belia. Kinerja Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dan Petugas Keluarga Berencana (PKB) pun terus dipacu.
Lebih dari itu, kolaborasi lintas sektor dipererat. Salah satu yang paling strategis adalah menggandeng Kantor Urusan Agama (KUA) di seluruh kecamatan. KUA kini tidak sekadar menjadi tempat pencatatan nikah, melainkan benteng edukasi pranikah. Di sinilah calon pengantin dibekali pemahaman mendalam tentang kesiapan mental, pondasi ekonomi, dan kesehatan reproduksi.
Langkah sinergis dan terukur ini terbukti efektif, bahkan sukses membawa KUA Kecamatan Dompu meraih penghargaan bergengsi atas kontribusi nyatanya dalam membantu percepatan penurunan stunting di wilayah tersebut.
Perang melawan kemiskinan ekstrem dan stunting di Dompu bukanlah semata soal mengejar tenggat waktu tahun 2027 atau menurunkan persentase statistik. Ini adalah upaya besar menyelamatkan sebuah generasi. Memastikan bahwa setiap anak perempuan di Dompu berhak tumbuh seutuhnya, mengejar mimpi setinggi-tingginya, dan memutus rantai kemiskinan sebelum mereka benar-benar siap membangun keluarga yang sehat dan sejahtera. (Idin)
7,619 total views, 7,619 views today










