LOMBOK TENGAH – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB) kian menunjukkan pesonanya sebagai magnet investasi dan destinasi wisata kelas dunia.
Sepanjang tahun lalu hingga awal 2026, kawasan ini mencatatkan nilai investasi fantastis mencapai Rp 6,018 triliun dan sukses menyerap 26.002 tenaga kerja.
Melihat tren positif tersebut, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) selaku pengembang kawasan terus mengebut penyempurnaan ekosistem pariwisata yang terintegrasi di The Mandalika.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat sudah ada 27 pelaku usaha yang menancapkan bisnisnya di kawasan ini. Sektor yang digarap pun beragam, mulai dari hospitality, kawasan komersial, hingga pendukung ekosistem motorsport. Para investor tak hanya datang dari dalam negeri, melainkan juga pemodal multinasional asal Singapura, Jepang, Spanyol, Amerika Serikat, hingga Maroko.
Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka mengungkapkan, derasnya aliran modal ini membuktikan tingginya kepercayaan dunia usaha terhadap prospek masa depan The Mandalika.
“Kawasan ini memiliki daya tarik kuat melalui konsep integrated tourism destination. Kami memadukan sport tourism, perhotelan, ruang terbuka hijau, dan fasilitas publik dalam satu ekosistem yang berkelanjutan,” ungkap Troy, Minggu (24/5/2026).
Geliat investasi yang masif sejalan dengan melonjaknya angka kunjungan pelancong. Pada caturwulan pertama (Januari–April) 2026, Mandalika sukses menyedot 285.003 wisatawan.
Menariknya, para turis kini lebih betah berlama-lama menghabiskan waktu di kawasan tersebut. Rata-rata lama menginap (length of stay) naik menjadi 2,33 hari dari sebelumnya 1,96 hari. Hal ini turut mengerek tingkat hunian atau okupansi hotel menjadi 44,57 persen.
“Peningkatan durasi tinggal ini tentu memberikan dampak ekonomi riil yang jauh lebih besar bagi masyarakat lokal, UMKM, serta sektor perhotelan di sekitar Mandalika,” tambah Troy.
Optimisme serupa juga disuarakan oleh kalangan investor. Direktur Utama PT Kleo Mandalika Resort, Satoki Okazaki, menilai Mandalika kini telah berevolusi menjadi ekosistem wisata mandiri yang tidak hanya bergantung pada event balapan sesaat.
“Kami melihat The Mandalika berkembang menjadi destinasi yang semakin matang dengan karakter alam yang kuat. Pembangunan yang terus berjalan menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha untuk tumbuh bersama secara berkelanjutan,” tutur Satoki.
Tumbuhnya pariwisata Mandalika tak lepas dari peran vital aksesibilitas udara. Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) Lombok mencatat lonjakan pergerakan penumpang yang signifikan pada awal tahun ini.
Sebanyak 850.319 penumpang tercatat hilir mudik sepanjang Januari hingga April 2026, meroket 18,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Tak hanya itu, total pergerakan pesawat juga melesat hingga 35,3 persen.
General Manager BIZAM, Aidhil Philip Julian, menuturkan bahwa peningkatan trafik ini menunjukkan geliat ekonomi NTB yang kian menjanjikan. Saat ini, mobilitas menuju Lombok dilayani oleh berbagai maskapai ternama seperti Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia, hingga Scoot dengan total 11 rute domestik dan 2 rute internasional.
“Penguatan konektivitas udara adalah kunci utama dalam mendukung pertumbuhan pariwisata dan investasi di NTB, khususnya kawasan strategis seperti Mandalika,” jelas Aidhil.
Ke depan, ITDC berkomitmen untuk terus menyempurnakan infrastruktur, utilitas, dan penataan kawasan guna memanjakan para pelancong. Melalui kolaborasi apik antara pemerintah, investor, dan masyarakat, Mandalika diproyeksikan tak hanya kokoh sebagai ikon pariwisata nasional, tetapi juga motor utama penggerak ekonomi baru di Indonesia. (Idin/*)
9,177 total views, 9,177 views today










