Lombok Tengah — Upaya memperkuat posisi The Mandalika sebagai destinasi kelas dunia tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur dan kalender event internasional. Ada peran strategis komunikasi publik yang kini mulai diperkuat melalui kolaborasi antara Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) NTB dan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC).
Pertemuan kedua pihak yang berlangsung di Bukit 360 Sirkuit Mandalika, Jumat (1/5/2026), bukan sekadar agenda silaturahmi. Di tengah riuh aktivitas balap di kawasan sirkuit, diskusi yang terbangun justru menyasar isu yang lebih mendasar: bagaimana memastikan narasi tentang Mandalika tetap positif, kredibel, dan kompetitif di tingkat global.
Sebagai kawasan strategis nasional, Mandalika menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, kawasan ini terus didorong menjadi magnet investasi dan pariwisata. Namun di sisi lain, arus informasi yang cepat—terutama di era media digital—menjadikan persepsi publik sangat rentan terhadap disinformasi maupun framing negatif.
Ketua JMSI NTB, H. Boy Mashudi, menilai media siber memiliki posisi krusial dalam menjaga keseimbangan tersebut. “Mandalika tidak hanya butuh promosi, tetapi juga pengelolaan informasi yang profesional. Di sinilah media berperan memastikan publik menerima informasi yang utuh dan berimbang,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa penguatan narasi yang tepat, pembangunan fisik yang masif tidak otomatis berbanding lurus dengan kepercayaan publik maupun minat investor.
Bagi PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC), menjaga stabilitas informasi menjadi bagian dari strategi pengelolaan kawasan. Manager Stakeholder dan Public Relation ITDC, Gresita FY Siahaan, mengakui bahwa media memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan tersebut.
“Kawasan seperti Mandalika sangat sensitif terhadap persepsi. Informasi yang tidak utuh bisa berdampak luas, baik terhadap citra pariwisata maupun iklim investasi,” katanya.
Apalagi, dengan semakin padatnya agenda internasional di Pertamina Mandalika International Street Circuit, eksposur global terhadap Mandalika terus meningkat. Dalam konteks ini, media tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga bagian dari ekosistem promosi.
Kehadiran Dinas Kominfotik NTB dalam pertemuan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah melihat pentingnya kolaborasi lintas sektor. Kepala Bidang IKP, Safrudin, menekankan perlunya ekosistem informasi yang sehat sebagai fondasi pembangunan daerah.
“Sinergi antara pengelola kawasan, media, dan pemerintah menjadi kunci agar informasi yang beredar tidak hanya cepat, tetapi juga akurat dan mendidik,” ujarnya.
Dalam perspektif kebijakan, komunikasi publik kini tidak lagi bersifat satu arah. Pemerintah dituntut mampu membangun ruang dialog dengan media dan masyarakat, terutama dalam mengelola isu-isu strategis yang berkembang di kawasan pariwisata.
Pertemuan di Bukit 360 menjadi simbol pendekatan baru dalam membangun komunikasi yang lebih cair, terbuka, dan berbasis kemitraan. Diskusi yang berlangsung tidak hanya menyoroti kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membuka peluang kerja sama jangka panjang dalam penguatan konten, publikasi internasional, hingga literasi media.
Langkah ini dinilai penting mengingat persaingan destinasi pariwisata global semakin ketat. Mandalika tidak hanya bersaing dalam hal keindahan alam atau infrastruktur, tetapi juga dalam kemampuan membangun citra dan kepercayaan.
Ke depan, sinergi antara JMSI NTB dan ITDC diharapkan tidak berhenti pada forum silaturahmi, melainkan berkembang menjadi strategi komunikasi terpadu yang mampu mengangkat Mandalika sebagai ikon pariwisata Indonesia di mata dunia.
Kolaborasi semacam ini menjadi penegas bahwa keberhasilan sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangun, tetapi juga bagaimana cerita tentangnya disampaikan. (Idin)
36,123 total views, 22 views today










