DOMPU — Angin pesisir Kecamatan Hu’u berhembus menyapu wajah para peselancar mancanegara yang menatap tajam ke arah bentangan Samudera Hindia. Bagi mereka, Pantai Lakey adalah arena bermain yang penuh tantangan.
Kecintaan wisatawan mancanegara terhadap gulungan ombak di kawasan pesisir ini tidak pernah surut. Mulai dari peselancar pemula hingga profesional yang berburu adrenalin tinggi, semua berkumpul di sini.
Mereka dimanjakan oleh variasi ombak legendaris: Lakey Peak yang membentuk tabung sempurna, Lakey Pipe yang menantang, hingga gulungan panjang di Nungas dan Periscope. Pesona ombak di Couple Stone dan Nangadoros pun selalu menjadi daya tarik utama yang membuat para surfer rela terbang melintasi benua untuk tiba di Dompu.
Alan Iwandai, pelaku wisata di Pantai Lakey, menuturkan bahwa karakter ombak Lakey sulit ditemukan di tempat lain. Hal itulah yang membuat nama Lakey terus berputar dari mulut ke mulut di komunitas selancar dunia.
“Setiap musim selalu ada wajah baru yang datang, dan tidak sedikit yang kembali lagi karena sudah jatuh cinta dengan ombak di sini,” ujar Alan saat ditemui di kawasan Pantai Lakey.
Namun, menurut Alan, tingginya antusiasme peselancar dunia ini terasa kontras dengan dukungan dari pemerintah daerah. Ia menilai perhatian Pemerintah Provinsi NTB terhadap pembangunan sektor pariwisata di Kawasan Strategisnya di Kabupaten Dompu masih sangat rendah.
Alan khawatir minimnya dukungan dari Pemerintah ini akan membawa dampak yang tidak bisa dianggap remeh. Tanpa agenda promosi yang jelas dan terarah, ia menilai geliat pariwisata Lakey terancam jalan di tempat. Destinasi ini, lanjutnya, berisiko kehilangan daya saing dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia yang terus berinovasi mengemas pariwisata mereka.
Kekhawatiran Alan tidak berhenti pada angka kunjungan. Ia menyoroti ekosistem ekonomi masyarakat lokal yang menggantungkan hidup pada sektor ini, mulai dari pemilik homestay, pemandu wisata, jasa penyewaan papan selancar, hingga pelaku UMKM kuliner.
Menurutnya, merekalah pihak pertama yang akan merasakan kelesuan jika arus kunjungan menurun akibat lemahnya pemasaran. Visibilitas Lakey di mata internasional pun, kata dia, perlahan bisa meredup tanpa kampanye yang terstruktur dari pemerintah.
“Kalau wisatawan berkurang, yang pertama kena dampaknya bukan pemerintah, tapi masyarakat kecil yang sehari-hari hidup dari Lakey,” ujar Alan.
Padahal tambahnya, penyelenggaraan event bertaraf besar memiliki peran yang sangat penting bagi keberlangsungan destinasi ini. Menghelat kejuaraan selancar internasional secara rutin di Lakey, menurut Alan, bukan sekadar memfasilitasi ajang perlombaan.
Kejuaraan semacam itu ia sebut sebagai etalase global yang berfungsi memikat lebih banyak wisatawan mancanegara untuk berkunjung. Liputan media internasional dan konten yang disebarkan para peserta dinilainya sebagai aset promosi massal yang mampu mendongkrak popularitas Dompu.
“Sekali ada event internasional, nama Dompu langsung tersebar ke mana-mana lewat media dan media sosial peserta. Itu promosi yang nilainya jauh lebih besar dari biayanya,” tutur Alan.
Bagi Alan, gulungan ombak di Pantai Lakey akan terus pecah menghantam karang, tak peduli ada atau tidaknya dukungan dari meja birokrasi. Namun, membiarkan potensi besar ini berjalan tanpa tata kelola dan investasi nyata dari Pemprov NTB ia nilai sebagai kerugian besar bagi kemajuan daerah.
Ia berharap pemerintah Provinsi NTB tidak hanya mengandalkan anugerah alam, tetapi juga menghadirkan komitmen, strategi, serta dana yang memadai agar sektor pariwisata benar-benar menghidupi perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.
“Alam sudah memberi kita modal yang luar biasa. Sekarang tinggal pemerintah mau serius mengelolanya atau tidak,” pungkasnya.
Data yang dihimpun wartawan menyebutkan, postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTB tahun 2026 tidak memuat alokasi khusus untuk kegiatan promosi berkelanjutan di Lakey, termasuk penyelenggaraan event bertajuk promosi wisata. (Idin)
7,452 total views, 14 views today









