KABUPATEN SUMBAWA BARAT — Jemari Khairatun bergerak cekatan memilin serat hitam yang menumpuk di pangkuannya. Sudah lebih dari dua tahun perempuan ini menekuni pekerjaan sebagai pemintal ijuk blangket, dan dari situlah ia membiayai hidup bersama anak-anaknya hingga salah satu dari mereka lulus kuliah dan diwisuda. “Sudah lebiih dari dua tahun saya bekerja jadi pemintal ijuk blangket, dari gaji ini saya penuhi semua kebutuhan saya dan anak-anak,” tuturnya, disaksikan sejumlah rekan sekerja yang duduk melingkar di teras rumah produksi.

Dalam tenda yang sama, sederet perempuan lain diantaranya, Nurhasanah, Eli Ekawati, Jubaidah, Mutiari, Surpiah, Khusnullah, dan Fatimah nampak tengah menekuni pekerjaan serupa. Nurhasanah, 50 tahun, punya suami yang telah renta dan bekerja sebagai buruh tani, serta seorang anak perempuan yang masih menjadi tanggungannya. Eli Ekawati, 40 tahun, adalah janda dengan dua anak, satu masih duduk di bangku sekolah dasar, satu lagi tengah menempuh pendidikan di SMK.
Bagi mereka, gulungan-gulungan serat aren yang dipintal setiap hari bukan pekerjaan sampingan biasa, justru menjadi penyangga ekonomi rumah tangga yang selama ini bertumpu pada penghasilan seadanya dari pertanian.
Serat Aren yang Menahan Lereng
Ijuk blangket adalah lembaran anyaman yang terbuat dari serat pohon aren, dijalin membentuk semacam selimut atau tikar tebal. Material ini dihamparkan di permukaan tanah pada lahan bekas tambang yang baru selesai ditata ulang, khususnya di area dengan kemiringan curam. Fungsinya sederhana namun sangat krusial guna menahan butiran tanah agar tidak tergerus air hujan sebelum tanaman penutup tumbuh dan akarnya cukup kuat mencengkeram tanah.
PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) menggunakan ijuk blangket, bersama coconet dari sabut kelapa, sebagai bagian dari metode reklamasi di area bekas tambang Batu Hijau. Pada masa awal, pengendalian erosi di lereng curam lahan reklamasi mengandalkan jaring goni impor. 
Seiring waktu, perusahaan bersama masyarakat sekitar tambang beralih memanfaatkan sumber daya lokal yang lebih lestari, yakni sabut kelapa dan serat ijuk pohon aren, yang diolah menjadi coconet dan ijuk blanket, yang terbukti efektif menahan erosi bahkan pada medan dengan kemiringan tinggi.
Skala pemanfaatannya terus meningkat seiring luasnya area yang direklamasi. Hingga akhir 2024, penggunaan coconet dan ijuk blanket telah diterapkan pada area reklamasi seluas 799,53 hektare, dan cakupannya terus bertambah setiap tahun. Setiap hektare lahan miring membutuhkan lembaran dalam jumlah besar agar seluruh permukaan tertutup rapat sebelum musim hujan tiba, karena pada fase itulah risiko tanah longsor dan erosi permukaan paling tinggi terjadi.
Mencegah Longsor, Menjaga Bibit Tumbuh
Manfaat ijuk blangket bagi pencegahan longsor terletak pada cara kerjanya menahan laju air hujan yang jatuh di permukaan lereng. Tanah yang baru ditata usai kegiatan tambang umumnya masih gembur dan belum memiliki tutupan vegetasi. Tanpa pelindung, hujan deras akan langsung menghantam permukaan tanah, mengikis lapisan atas, dan mendorong material lepas turun ke bagian bawah lereng. Kondisi semacam itulah yang memicu erosi permukaan dan, pada tingkat yang lebih parah, maka terjadinya longsoran tanah dangkal.
Lembaran ijuk yang dihamparkan berfungsi meredam energi tumbukan air hujan, memperlambat aliran permukaan, sekaligus menjaga kelembapan tanah di baliknya. Serat-serat alami itu juga menahan biji atau bibit tanaman penutup agar tidak hanyut terbawa air, sehingga proses penghijauan berjalan lebih cepat.

Foto : Didat
Ketika akar tanaman mulai tumbuh menembus rongga-rongga ijuk, fungsi penahan tanah berpindah secara alami dari material serat ke sistem perakaran, sementara ijuk itu sendiri akan terurai menyatu dengan tanah karena sifatnya yang organik. Rangkaian proses inilah yang membuat lereng bekas tambang berangsur stabil tanpa meninggalkan residu material asing di dalam tanah.
Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Julmansyah, menyebut keberhasilan reklamasi AMMAN memberikan manfaat ekologis seperti meningkatkan kualitas udara dan air, menciptakan habitat bagi flora dan fauna, serta mencegah erosi dan sedimentasi. Penerapan ijuk blangket dan coconet menjadi salah satu metode teknis yang mendukung capaian tersebut, sejalan dengan kaidah teknik pertambangan yang baik sebagaimana diatur pemerintah.
Dari Limbah Kebun ke Penghasilan Keluarga
Kebutuhan ijuk blangket dalam jumlah besar itulah yang membuka lapangan kerja bagi puluhan warga Jereweh, termasuk Nurhasanah, Eli Ekawati, bersama kawan-kawannya. Mereka bekerja di rumah produksi milik Tarmiji Pane, pengusaha lokal yang sudah bertahun-tahun menjalin kerja sama memasok ijuk blangket untuk kebutuhan reklamasi AMMAN.

Status para pekerja memang berupa tenaga lepas, digaji berdasarkan jumlah lembar yang berhasil mereka selesaikan, bukan gaji bulanan tetap. Ismail, warga Jereweh yang sehari-hari juga bertani, mengaku mampu menyelesaikan lima lembar tikar ijuk blangket setiap hari, dengan upah Rp 35 ribu per lembar tikar. Waktu luang di sela bertani ia manfaatkan untuk menambah pemasukan keluarga di rumah. “Kami dibayarkan setelah bekerja sepekan, lumayan kalau setiap hari bisa menyelesaikan lima lembar tikar atau ijuk blangket,” ungkapnya.
Meski berstatus tenaga lepas, para pekerja mengaku sangat terbantu secara ekonomi. Bagi Khairatun dan Fatimah, penghasilan dari memintal ijuk cukup untuk menutup kebutuhan rumah tangga sehari-hari, bahkan mampu membiayai pendidikan anak hingga tuntas. Bagi Eli Ekawati yang harus membesarkan dua anak seorang diri, dan bagi Nurhasanah yang menanggung suami yang sudah tua, pekerjaan ini menjadi sandaran yang menopang dapur tetap mengepul, kala penghasilan bertani naik turun mengikuti musim.
Tarmiji Pane, pemilik usaha, mengaku berusaha menjaga komitmen terhadap para pekerjanya, terutama soal ketepatan waktu pembayaran gaji. “Kami selalu mengupayakan agar gaji mereka dibayar sebelum keringat mereka kering,” ujarnya. Prinsip itu, menurutnya, menjadi cara sederhana menghargai kerja keras para perempuan yang menopang produksi ijuk blangket di desanya.
Dari sisi bisnis, kerja sama dengan AMMAN memberi Tarmiji putaran usaha yang cukup besar. Ia mengaku pernah menerima order senilai kurang lebih Rp2 miliar per tahun dari perusahaan tersebut. Belakangan nilainya sedikit menurun karena AMMAN turut menggandeng pengusaha lain di Tongo untuk pemerataan pekerjaan bagi masyarakat di kawasan itu. “Sekarang masih banyak, sekitar Rp1 miliar,” kata Tarmiji, menjelaskan kondisi order tahun terakhir.
Pengakuan dari Manajemen AMMAN
Bagi manajemen AMMAN, keterlibatan warga seperti kelompok pekerja di Jereweh berarti lebih dari sekadar rantai pasok. Perusahaan memandangnya sebagai bagian dari strategi memadukan pemulihan lingkungan dengan penguatan ekonomi masyarakat sekitar tambang.
Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, menyatakan program reklamasi berbasis komunitas ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar tambang.
Menurutnya, fokus perusahaan bukan melulu pada pemulihan lingkungan, tetapi juga pembangunan kapasitas ekonomi lokal yang diharapkan tetap berjalan bahkan setelah masa operasional tambang berakhir kelak.
Senior Manager Corporate Communications AMMAN, Dinar Puja Ginanjar, menambahkan bahwa perusahaan telah menjalin kerja sama dengan dua pemasok utama di Kecamatan Maluk dan Jereweh yang mempekerjakan lebih dari 60 orang masyarakat setempat. Kebutuhan tahunan area reklamasi diperkirakan mencapai 7.000 rol coconet, dengan estimasi per hektare membutuhkan 180 rol, angka yang menggambarkan betapa besar skala produksi yang harus dipenuhi warga sekitar untuk mendukung program pemulihan lahan pascatambang.
Khairatun, salah seorang ibu pekerja di Jereweh, mengaku program ini memberi arti tersendiri bagi peran para ibu rumah tangga di desanya. “Melalui program AMMAN ini, kami para ibu rumah tangga bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang sangat berarti,” katanya, seraya menambahkan bahwa keterampilan mengolah serat ijuk dan sabut kelapa yang semula dianggap kurang bernilai kini menjadi sumber penghasilan yang nyata.
Lereng yang Pulih, Keluarga yang Bertahan
Dari setiap lembar ijuk blangket yang terhampar di lereng bekas tambang, ada cerita rumah tangga yang bertahan dari upah harian yang dibayar per gulung. Pekerjaan yang tampak sederhana ini menyatukan dua kepentingan yang sering dianggap berjarak, pemulihan lingkungan pascatambang dan keberlangsungan hidup keluarga kecil di pedesaan.
Bagi Nurhasanah yang menopang suami yang sudah renta, bagi Eli Ekawati yang membesarkan dua anak seorang diri, dan bagi Khairatun serta Fatimah yang berhasil menyekolahkan anak hingga wisuda, ijuk blangket bukan lagi sekadar material teknis pengendali erosi. Ijuk adalah rajutan serat yang menahan tanah di lereng gunung sekaligus menopang harapan keluarga di rumah.
Selama lereng-lereng bekas tambang masih membutuhkan lapisan pelindung sebelum hutan tumbuh mandiri, selama itu pula jemari para perempuan Jereweh akan terus memintal, menganyam masa depan dari serat aren yang dulu nyaris tak dilirik siapa pun. (Didat)
19,271 total views, 19,271 views today










