ADVERTISEMENT
  • Home
  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Disclaimer
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kontak
Minggu, 12 Juli 2026
  • Login
TOFO NEWS
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Tajuk
  • Politik
  • Hukum
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pembangunan
  • Peristiwa
  • Investigasi
  • Opini
  • Lainnya
    • Parlementaria
    • Budaya
    • Pariwisata
    • Humaniora
    • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Tajuk
  • Politik
  • Hukum
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pembangunan
  • Peristiwa
  • Investigasi
  • Opini
  • Lainnya
    • Parlementaria
    • Budaya
    • Pariwisata
    • Humaniora
    • Teknologi
No Result
View All Result
TOFO NEWS
No Result
View All Result
Home Sosial

Ijuk Blangket, Penopang Lereng, Penopang Keluarga

admintofo by admintofo
12 Juli 2026
in Sosial
0
Ijuk Blangket, Penopang Lereng, Penopang Keluarga

Khairatun berhasil menyelesaikan pendidikan putrinya di Perguruan Tinggi hingga diwisuda atas hasil kerjanya sebagai pekerja ijuk blangket. Foto : Didat

KABUPATEN SUMBAWA BARAT — Jemari Khairatun bergerak cekatan memilin serat hitam yang menumpuk di pangkuannya. Sudah lebih dari dua tahun perempuan ini menekuni pekerjaan sebagai pemintal ijuk blangket, dan dari situlah ia membiayai hidup bersama anak-anaknya hingga salah satu dari mereka lulus kuliah dan diwisuda. “Sudah lebiih dari dua tahun saya bekerja jadi pemintal ijuk blangket, dari gaji ini saya penuhi semua kebutuhan saya dan anak-anak,” tuturnya, disaksikan sejumlah rekan sekerja yang duduk melingkar di teras rumah produksi.

Menjadi pekerja Ijuk blangket adalah sesuatu yang sangat membantu keluarga Nurhasanah sehingga bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga dan membiayai hidup putrinya yang masih sekolah

Dalam tenda yang sama, sederet perempuan lain diantaranya, Nurhasanah, Eli Ekawati, Jubaidah, Mutiari, Surpiah, Khusnullah, dan Fatimah nampak tengah menekuni pekerjaan serupa. Nurhasanah, 50 tahun, punya suami yang telah renta dan bekerja sebagai buruh tani, serta seorang anak perempuan yang masih menjadi tanggungannya. Eli Ekawati, 40 tahun, adalah janda dengan dua anak, satu masih duduk di bangku sekolah dasar, satu lagi tengah menempuh pendidikan di SMK. 

Bagi mereka, gulungan-gulungan serat aren yang dipintal setiap hari bukan pekerjaan sampingan biasa, justru menjadi penyangga ekonomi rumah tangga yang selama ini bertumpu pada penghasilan seadanya dari pertanian.

Serat Aren yang Menahan Lereng

Ijuk blangket adalah lembaran anyaman yang terbuat dari serat pohon aren, dijalin membentuk semacam selimut atau tikar tebal. Material ini dihamparkan di permukaan tanah pada lahan bekas tambang yang baru selesai ditata ulang, khususnya di area dengan kemiringan curam. Fungsinya sederhana namun sangat krusial guna menahan butiran tanah agar tidak tergerus air hujan sebelum tanaman penutup tumbuh dan akarnya cukup kuat mencengkeram tanah.

PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) menggunakan ijuk blangket, bersama coconet dari sabut kelapa, sebagai bagian dari metode reklamasi di area bekas tambang Batu Hijau. Pada masa awal, pengendalian erosi di lereng curam lahan reklamasi mengandalkan jaring goni impor.

Seiring waktu, perusahaan bersama masyarakat sekitar tambang beralih memanfaatkan sumber daya lokal yang lebih lestari, yakni sabut kelapa dan serat ijuk pohon aren, yang diolah menjadi coconet dan ijuk blanket, yang terbukti efektif menahan erosi bahkan pada medan dengan kemiringan tinggi.

Skala pemanfaatannya terus meningkat seiring luasnya area yang direklamasi. Hingga akhir 2024, penggunaan coconet dan ijuk blanket telah diterapkan pada area reklamasi seluas 799,53 hektare, dan cakupannya terus bertambah setiap tahun. Setiap hektare lahan miring membutuhkan lembaran dalam jumlah besar agar seluruh permukaan tertutup rapat sebelum musim hujan tiba, karena pada fase itulah risiko tanah longsor dan erosi permukaan paling tinggi terjadi.

Mencegah Longsor, Menjaga Bibit Tumbuh

Manfaat ijuk blangket bagi pencegahan longsor terletak pada cara kerjanya menahan laju air hujan yang jatuh di permukaan lereng. Tanah yang baru ditata usai kegiatan tambang umumnya masih gembur dan belum memiliki tutupan vegetasi. Tanpa pelindung, hujan deras akan langsung menghantam permukaan tanah, mengikis lapisan atas, dan mendorong material lepas turun ke bagian bawah lereng. Kondisi semacam itulah yang memicu erosi permukaan dan, pada tingkat yang lebih parah, maka terjadinya longsoran tanah dangkal.

Lembaran ijuk yang dihamparkan berfungsi meredam energi tumbukan air hujan, memperlambat aliran permukaan, sekaligus menjaga kelembapan tanah di baliknya. Serat-serat alami itu juga menahan biji atau bibit tanaman penutup agar tidak hanyut terbawa air, sehingga proses penghijauan berjalan lebih cepat.

Tarmizi Pane Pengusaha Ijuk Blangket di Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat.
Foto : Didat

 

Ketika akar tanaman mulai tumbuh menembus rongga-rongga ijuk, fungsi penahan tanah berpindah secara alami dari material serat ke sistem perakaran, sementara ijuk itu sendiri akan terurai menyatu dengan tanah karena sifatnya yang organik. Rangkaian proses inilah yang membuat lereng bekas tambang berangsur stabil tanpa meninggalkan residu material asing di dalam tanah.

Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Julmansyah, menyebut keberhasilan reklamasi AMMAN memberikan manfaat ekologis seperti meningkatkan kualitas udara dan air, menciptakan habitat bagi flora dan fauna, serta mencegah erosi dan sedimentasi. Penerapan ijuk blangket dan coconet menjadi salah satu metode teknis yang mendukung capaian tersebut, sejalan dengan kaidah teknik pertambangan yang baik sebagaimana diatur pemerintah.

Dari Limbah Kebun ke Penghasilan Keluarga

Kebutuhan ijuk blangket dalam jumlah besar itulah yang membuka lapangan kerja bagi puluhan warga Jereweh, termasuk Nurhasanah, Eli Ekawati, bersama kawan-kawannya. Mereka bekerja di rumah produksi milik Tarmiji Pane, pengusaha lokal yang sudah bertahun-tahun menjalin kerja sama memasok ijuk blangket untuk kebutuhan reklamasi AMMAN.

Ijuk blangket yang siap diberangkatkan ke Kawasan reklamasi PT AMMAN

Status para pekerja memang berupa tenaga lepas, digaji berdasarkan jumlah lembar yang berhasil mereka selesaikan, bukan gaji bulanan tetap. Ismail, warga Jereweh yang sehari-hari juga bertani, mengaku mampu menyelesaikan lima lembar tikar ijuk blangket setiap hari, dengan upah Rp 35 ribu per lembar tikar. Waktu luang di sela bertani ia manfaatkan untuk menambah pemasukan keluarga di rumah. “Kami dibayarkan setelah bekerja sepekan, lumayan kalau setiap hari bisa menyelesaikan lima lembar tikar atau ijuk blangket,” ungkapnya.

Meski berstatus tenaga lepas, para pekerja mengaku sangat terbantu secara ekonomi. Bagi Khairatun dan Fatimah, penghasilan dari memintal ijuk cukup untuk menutup kebutuhan rumah tangga sehari-hari, bahkan mampu membiayai pendidikan anak hingga tuntas. Bagi Eli Ekawati yang harus membesarkan dua anak seorang diri, dan bagi Nurhasanah yang menanggung suami yang sudah tua, pekerjaan ini menjadi sandaran yang menopang dapur tetap mengepul, kala penghasilan bertani naik turun mengikuti musim.

Tarmiji Pane, pemilik usaha, mengaku berusaha menjaga komitmen terhadap para pekerjanya, terutama soal ketepatan waktu pembayaran gaji. “Kami selalu mengupayakan agar gaji mereka dibayar sebelum keringat mereka kering,” ujarnya. Prinsip itu, menurutnya, menjadi cara sederhana menghargai kerja keras para perempuan yang menopang produksi ijuk blangket di desanya.

Dari sisi bisnis, kerja sama dengan AMMAN memberi Tarmiji putaran usaha yang cukup besar. Ia mengaku pernah menerima order senilai kurang lebih Rp2 miliar per tahun dari perusahaan tersebut. Belakangan nilainya sedikit menurun karena AMMAN turut menggandeng pengusaha lain di Tongo untuk pemerataan pekerjaan bagi masyarakat di kawasan itu. “Sekarang masih banyak, sekitar Rp1 miliar,” kata Tarmiji, menjelaskan kondisi order tahun terakhir.

Pengakuan dari Manajemen AMMAN

Bagi manajemen AMMAN, keterlibatan warga seperti kelompok pekerja di Jereweh berarti lebih dari sekadar rantai pasok. Perusahaan memandangnya sebagai bagian dari strategi memadukan pemulihan lingkungan dengan penguatan ekonomi masyarakat sekitar tambang.

Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, menyatakan program reklamasi berbasis komunitas ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar tambang. 

Menurutnya, fokus perusahaan bukan melulu pada pemulihan lingkungan, tetapi juga pembangunan kapasitas ekonomi lokal yang diharapkan tetap berjalan bahkan setelah masa operasional tambang berakhir kelak.

Senior Manager Corporate Communications AMMAN, Dinar Puja Ginanjar, menambahkan bahwa perusahaan telah menjalin kerja sama dengan dua pemasok utama di Kecamatan Maluk dan Jereweh yang mempekerjakan lebih dari 60 orang masyarakat setempat. Kebutuhan tahunan area reklamasi diperkirakan mencapai 7.000 rol coconet, dengan estimasi per hektare membutuhkan 180 rol, angka yang menggambarkan betapa besar skala produksi yang harus dipenuhi warga sekitar untuk mendukung program pemulihan lahan pascatambang.

Khairatun, salah seorang ibu pekerja di Jereweh, mengaku program ini memberi arti tersendiri bagi peran para ibu rumah tangga di desanya. “Melalui program AMMAN ini, kami para ibu rumah tangga bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang sangat berarti,” katanya, seraya menambahkan bahwa keterampilan mengolah serat ijuk dan sabut kelapa yang semula dianggap kurang bernilai kini menjadi sumber penghasilan yang nyata.

Lereng yang Pulih, Keluarga yang Bertahan

Dari setiap lembar ijuk blangket yang terhampar di lereng bekas tambang, ada cerita rumah tangga yang bertahan dari upah harian yang dibayar per gulung. Pekerjaan yang tampak sederhana ini menyatukan dua kepentingan yang sering dianggap berjarak, pemulihan lingkungan pascatambang dan keberlangsungan hidup keluarga kecil di pedesaan.

Bagi Nurhasanah yang menopang suami yang sudah renta, bagi Eli Ekawati yang membesarkan dua anak seorang diri, dan bagi Khairatun serta Fatimah yang berhasil menyekolahkan anak hingga wisuda, ijuk blangket bukan lagi sekadar material teknis pengendali erosi. Ijuk adalah rajutan serat yang menahan tanah di lereng gunung sekaligus menopang harapan keluarga di rumah.

Selama lereng-lereng bekas tambang masih membutuhkan lapisan pelindung sebelum hutan tumbuh mandiri, selama itu pula jemari para perempuan Jereweh akan terus memintal, menganyam masa depan dari serat aren yang dulu nyaris tak dilirik siapa pun. (Didat)

 19,265 total views,  19,265 views today

admintofo

admintofo

Artikel Sejenis

JMSI NTB – INTI Goes To Pesantren 2026, Salurkan Bantuan untuk Santri Ponpes Azzainiyah Al-Majidiyah
Sosial

JMSI NTB – INTI Goes To Pesantren 2026, Salurkan Bantuan untuk Santri Ponpes Azzainiyah Al-Majidiyah

4 Juni 2026
MUI Kabupaten Dompu Apresiasi Bupati Bambang Firdaus atas Penyerahan Kantor Sekretariat
Sosial

MUI Kabupaten Dompu Apresiasi Bupati Bambang Firdaus atas Penyerahan Kantor Sekretariat

4 Juni 2026
Taktik Kurban Senyap, Hindari Pemburu Daging
Sosial

Taktik Kurban Senyap, Hindari Pemburu Daging

28 Mei 2026
Perkuat Hubungan Sosial, STM Distribusikan 11 Ekor Sapi untuk Masyarakat Dompu
Sosial

Perkuat Hubungan Sosial, STM Distribusikan 11 Ekor Sapi untuk Masyarakat Dompu

27 Mei 2026
Rapat Pleno PWI NTB Bahas Kesiapan Porwarda 2026, UKW Gratis, dan Kemandirian Ekonomi Lewat Koperasi
Sosial

Rapat Pleno PWI NTB Bahas Kesiapan Porwarda 2026, UKW Gratis, dan Kemandirian Ekonomi Lewat Koperasi

23 Mei 2026
Jaga Kesinambungan Program dan Kelangsungan Organisasi, PWI Pusat Isi Jabatan Sekjen
Sosial

Jaga Kesinambungan Program dan Kelangsungan Organisasi, PWI Pusat Isi Jabatan Sekjen

20 Mei 2026

Berita Terbaru

Ijuk Blangket, Penopang Lereng, Penopang Keluarga

Ijuk Blangket, Penopang Lereng, Penopang Keluarga

12 Juli 2026
Mandalika Street Food Festival, Ajang Berburu Cita Rasa Kuliner Legendaris Lombok di The Mandalika

Mandalika Street Food Festival, Ajang Berburu Cita Rasa Kuliner Legendaris Lombok di The Mandalika

11 Juli 2026
Standard Baru Kesejahteraan Pekerja: Otsuka dan RS Jiwa Nasional Inisiasi Program Mental Ease at Workplaces

Standard Baru Kesejahteraan Pekerja: Otsuka dan RS Jiwa Nasional Inisiasi Program Mental Ease at Workplaces

9 Juli 2026
Okupansi Hotel Tembus 100 Persen, The Mandalika Uji Kesiapan Jadi Tuan Rumah Sport Tourism Kelas Dunia

Okupansi Hotel Tembus 100 Persen, The Mandalika Uji Kesiapan Jadi Tuan Rumah Sport Tourism Kelas Dunia

8 Juli 2026
  • Home
  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Disclaimer
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Kontak

Copyright © 2024 tofo-news.com
Developed by Tokoweb.co

  • Home
  • Tajuk
  • Nasional
  • Regional
  • Hukum
  • Olahraga
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Berita Lainnya
    • Pembangunan
    • Parlementaria
    • Peristiwa
    • Investigasi
    • Ekonomi
    • Bisnis
    • Kesehatan
    • Pariwisata
    • Budaya
    • Humaniora
    • Teknologi
  • Informasi Lainnya
    • Pedoman Media Siber
    • Iklan
    • Tentang
    • Redaksi
    • Kontak
  • Login

Copyright © 2024 tofo-news.com
Developed by Tokoweb.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist