Panggung final Piala Dunia 2026 biasanya milik para penyerang. Namun malam itu di New York New Jersey Stadium, sorotan justru jatuh pada seorang bek tengah berusia 19 tahun asal Spania, Pau Cubarsi. Ia dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik turnamen, penghargaan yang datang setelah penampilannya yang konsisten sepanjang kompetisi membuatnya dipandang sebagai calon bek tengah legendaris masa depan. Spania mengalahkan Argentina 1-0 lewat babak tambahan waktu untuk merebut gelar juara dunia.
Penghargaan ini adalah karena konsistensi Cubarsi yang membuat namanya terus disorot, hingga akhirnya ia mengukir sejarah sebagai bek pertama yang pernah meraih penghargaan tersebut. Rekor itu penting, sebab sejak penghargaan pemain muda terbaik pertama kali diberikan kepada Pele pada Piala Dunia 1958, dominasi selalu berada di tangan penyerang atau gelandang serang.
Tembok yang Nyaris Tak Tertembus
Sepanjang delapan laga, gawang Spanyol cuma kebobolan satu kali, dan dari total peluang open play yang diberikan ke lawan, Spanyol jadi tim dengan pertahanan paling kokoh diantara 32 peserta yang lolos fase grup, padahal mereka main lebih banyak pertandingan dibanding setengah dari tim-tim lain.
Cubarsi tampil sempurna tanpa cela, membantu Spania mencatatkan tujuh pertandingan tanpa kebobolan sepanjang turnamen, membangun kerja sama apik bersama Aymeric Laporte di jantung pertahanan yang hanya kebobolan satu gol, yakni saat menang 2-1 atas Belgia di perempat final.
Kualitas Cubarsi tidak hanya terlihat dari sisi bertahan. Dari seluruh pemain di turnamen, hanya rekan setimnya sekaligus peraih Golden Ball, Rodri, dengan 756 operan sukses, yang mengungguli catatan operan Cubarsi sebanyak 671 kali, dua angka tertinggi sepanjang sejarah pencatatan Piala Dunia sejak 1966. Angka ini menunjukkan bahwa perannya jauh melampaui tugas dasar seorang bek tengah. Ia menjadi titik distribusi bola, penopang build-up (pertahanan) permainan Spania dari lini belakang, sekaligus benteng terakhir sebelum kiper.
Malam Puncak di Final
Penampilan Cubarsi di partai puncak menjadi rangkuman sempurna dari seluruh perjalanannya di turnamen ini. Rodri tampil gemilang layaknya peraih Ballon d’Or, Ferran Torres mencetak gol kemenangan, namun Cubarsi tetap dinilai sebagai pemain terbaik di lapangan pada laga final tersebut. Sepanjang dua pekan terakhir turnamen, pemain 19 tahun ini berhasil meredam penyerang-penyerang kelas dunia seperti Cristiano Ronaldo, Kylian Mbappe, Alvarez, dan Messi di babak-babak knockout menuju gelar juara.
Usai pertandingan, emosinya pecah dalam kalimat sederhana. Cubarsi mengaku belum bisa menjelaskan perasaannya karena masih merasa seperti berada dalam mimpi. Ungkapan itu wajar keluar dari pemain yang baru dua tahun sebelumnya masih berjuang membuktikan diri di level klub, dan kini berdiri sebagai juara dunia sekaligus pemegang rekor bersejarah.
Fondasi yang Sudah Terbentuk Sejak Dini
Pencapaian di Piala Dunia 2026 sebetulnya kelanjutan dari tren yang sudah terlihat sejak awal kariernya. Cubarsi sebelumnya sudah membantu tim Spania U-23 meraih emas Olimpiade musim panas 2024, dan kini telah mengoleksi 20 laga bersama tim senior. Di level klub, ia turut mengantar Barcelona meraih dua gelar La Liga beruntun sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai salah satu bek paling menjanjikan di dunia sepak bola, dengan total 128 penampilan senior di seluruh kompetisi bersama raksasa Catalan tersebut.
Jejak rekam itu menjelaskan mengapa penghargaan Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2026 terasa pantas disandangnya, bukan kejutan semusim. Sebelum turnamen dimulai, perhatian publik lebih banyak tertuju pada rekan setimnya, Lamine Yamal, sebagai kandidat kuat peraih penghargaan ini. Namun seiring bergulirnya pertandingan, Cubarsi perlahan mengambil alih posisi sebagai pemain paling krusial dalam skuad Spania, membuktikan bahwa bek tengah pun bisa tampil sedominan penyerang di atas lapangan.
Kisah Cubarsi di Piala Dunia 2026 pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kehebatan sepak bola tidak selalu identik dengan gol dan assist (umpan yang matang). Ketenangan membaca permainan, ketepatan distribusi bola, serta kedisiplinan menjaga garis pertahanan terbukti mampu membawa seorang pemain berusia 19 tahun berdiri sejajar dengan legenda-legenda yang pernah menyandang gelar serupa sejak 1958. Rekor sebagai bek pertama peraih penghargaan itu kini menjadi bagian permanen dari sejarah turnamen empat tahunan ini. (Idin)
20,451 total views, 20,451 views today










