DOMPU – Area pembayaran di RSUD Kabupaten Dompu kini tampak berbeda dibanding beberapa waktu lalu. Sebagian pengunjung dan pasien cukup mengeluarkan telepon genggam, memindai kode QR, lalu menunggu notifikasi pembayaran berhasil. Transaksi menggunakan QRIS resmi diberlakukan di rumah sakit milik pemerintah daerah ini sejak awal Agustus 2025.
Direktur RSUD Dompu, dr. Fitratul Ramadhan, menegaskan bahwa layanan tersebut sudah mulai digunakan masyarakat. Namun dia mengakui tunai belum sepenuhnya ditinggalkan. Beberapa pengunjung dan pasien, terutama orang tua yang kesulitan menggunakan teknologi serta warga dari daerah yang jauh, masih memilih membayar dengan uang kertas.
Satu Kode untuk Banyak Aplikasi
QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard adalah standar kode QR nasional yang dikembangkan Bank Indonesia bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia. Satu kode dapat dipindai melalui berbagai aplikasi, mulai dari dompet digital hingga mobile banking. Pengguna tidak perlu memasang aplikasi khusus untuk setiap tempat yang dikunjungi.
Di lingkungan rumah sakit, cara ini punya sejumlah keuntungan. Pasien tidak perlu menyiapkan uang pas atau menunggu kembalian. Setiap transaksi tercatat otomatis sehingga pengelolaan keuangan lebih rapi dan mudah ditelusuri. Risiko menyimpan uang tunai dalam jumlah besar di loket pun berkurang. Keluarga pasien yang harus mondar-mandir mengurus administrasi bisa memakai waktu yang terpangkas itu untuk mendampingi anggota keluarga yang sakit.
Sejak diberlakukan pada awal Agustus 2025, QRIS mulai dikenal oleh pengunjung RSUD Dompu. Petugas loket melihat semakin banyak orang yang datang dengan ponsel di tangan dan siap memindai kode. Pengguna paling banyak berasal dari kalangan yang sehari-hari sudah akrab dengan dompet digital dan layanan perbankan di ponsel.
Meski begitu, kebiasaan tidak berubah dalam semalam. Penggunaan QRIS di rumah sakit ini berkembang bertahap, dan pihak manajemen memahami bahwa setiap kelompok masyarakat punya kecepatan adaptasi yang berbeda.
Mengapa Tunai Masih Bertahan
Para lansia umumnya belum akrab dengan aplikasi pembayaran. Sebagian tidak memiliki ponsel pintar, sebagian lain takut salah menekan tombol sehingga uangnya terkirim ke tempat yang keliru. Mereka lebih percaya pada uang yang bisa dipegang dan dihitung langsung.
Kondisi serupa dialami warga dari daerah jauh. Dompu, kabupaten di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, memiliki banyak wilayah pedesaan dan pesisir. Tidak semua desa punya sinyal yang stabil, dan tidak semua warga memiliki rekening bank atau dompet digital. Membawa uang tunai dari rumah menjadi langkah paling aman karena cara itu sudah dipakai bertahun-tahun.
Pasien yang datang dalam keadaan darurat juga sulit diharapkan memakai QRIS. Ketika keluarga panik dan fokus pada keselamatan pasien, urusan pembayaran nontunai kerap menjadi prioritas paling akhir. Karena itu, rumah sakit tetap perlu menyediakan jalur tunai agar pelayanan tidak terhambat.
Dua Jalur yang Berjalan Berdampingan
Pernyataan Direktur RSUD Dompu menunjukkan bahwa pihak rumah sakit memilih membiarkan dua cara bayar berjalan bersamaan. QRIS didorong untuk mereka yang sudah siap, sedangkan tunai tetap dilayani bagi yang belum terbiasa. Pendekatan ini dinilai wajar pada fase awal, karena memaksa seluruh pasien beralih berisiko menyulitkan kelompok yang paling membutuhkan layanan.
Rumah sakit pemerintah melayani semua lapisan masyarakat, dari pegawai yang melek teknologi sampai petani yang menempuh perjalanan berjam-jam untuk berobat. Layanan yang adil harus bisa dijangkau keduanya.
Menjembatani Kesenjangan
Agar penggunaan QRIS terus tumbuh, ada beberapa langkah yang lazim dilakukan fasilitas layanan publik di daerah. Pertama, sosialisasi yang konsisten lewat poster, papan informasi, dan penjelasan langsung dari petugas. Kedua, petugas pendamping di loket yang siap memandu pengunjung memindai kode dan memastikan pembayaran berhasil. Ketiga, jaringan internet yang stabil di area pembayaran, karena transaksi gagal akibat sinyal lemah bisa membuat pengguna kapok.
Keluarga juga memegang peran. Anak atau cucu yang mengantar orang tua berobat dapat membantu membayar lewat ponsel mereka, sambil perlahan mengenalkan caranya. Dengan begitu, lansia tidak tertinggal dan peralihan ke pembayaran digital berlangsung lebih manusiawi.
Semakin banyak masyarakat memiliki ponsel pintar dan akun pembayaran digital, semakin besar pula kemungkinan transaksi nontunai menjadi kebiasaan di rumah sakit. Arah itu sudah terlihat sejak QRIS mulai berlaku pada Agustus 2025. (Adv)
9,169 total views, 9,169 views today









