DOMPU — Sektor peternakan kambing di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus menunjukkan geliat meski angkanya berfluktuasi dari tahun ke tahun. Berdasarkan data populasi ternak Kabupaten Dompu, jumlah kambing tercatat 104.255 ekor pada 2021, lalu turun tajam menjadi 50.170 ekor pada 2022. Populasi kemudian melonjak kembali ke 115.232 ekor pada 2023, sebelum turun lagi ke 63.803 ekor pada 2024, dan naik menjadi 71.146 ekor pada 2025.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu, Ilham SP kepada wartawan menganggap bahwa fluktuasi ini wajar terjadi pada ternak kecil seperti kambing, yang siklus pemeliharaannya relatif singkat dibanding sapi atau kerbau.
Katanya, peternak biasanya menjual atau memotong kambing dalam rentang waktu lebih cepat, sehingga populasi mudah berubah mengikuti permintaan pasar, musim hajatan, kurban, hingga kebutuhan ekonomi rumah tangga peternak itu sendiri.
Sokongan Ekonomi Rumah Tangga
Kambing dikenal sebagai “tabungan hidup” masyarakat pedesaan. Ternak ini mudah dipelihara dengan modal kecil, tidak membutuhkan lahan luas seperti sapi, dan bisa dijual sewaktu-waktu untuk kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah, pengobatan, atau modal usaha.
Karakteristik ini membuat kambing menjadi pilihan utama peternak skala rumah tangga di Dompu, terutama di wilayah dengan padang rumput dan lahan kering yang cukup luas.
Selain nilai jual ternak hidup, bisnis kambing juga menghidupkan rantai ekonomi lain, seperti pedagang pakan ternak, tukang angkut, pengepul, hingga pedagang daging kambing di pasar tradisional. “Menjelang Hari Raya Iduladha, permintaan kambing kurban biasanya melonjak signifikan dan mendongkrak harga jual di tingkat peternak,” ungkap Ilham.
Dampak Positif di Luar Ekonomi
Selain manfaat finansial, pemeliharaan kambing turut membantu pengelolaan lahan marginal yang kurang produktif untuk tanaman pangan. Kambing mampu memanfaatkan rumput dan semak di lahan kering, sehingga lahan tidur pun tetap memberi nilai ekonomi bagi warga sekitar. Kotoran kambing juga banyak dimanfaatkan sebagai pupuk organik oleh petani setempat, mendukung praktik pertanian yang lebih hemat biaya pupuk kimia.
Dari sisi sosial, usaha ternak kambing kerap menjadi kegiatan sampingan bagi keluarga petani, termasuk perempuan dan anggota keluarga usia lanjut yang tidak lagi mampu bekerja penuh di sawah atau ladang. Pola ini membantu pemerataan pendapatan di tingkat rumah tangga pedesaan.
Sebaran Wilayah Peternakan
Secara geografis, populasi kambing di Dompu cenderung terkonsentrasi di kecamatan-kecamatan dengan karakter lahan kering dan padang penggembalaan luas, seperti Pekat, Kempo, Manggelewa, dan Hu’u. Wilayah-wilayah ini memang dikenal sebagai kantong peternakan di Dompu, mengingat kondisi topografi berbukit dan curah hujan rendah yang lebih cocok untuk ternak lahan kering dibanding pertanian basah.
Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat pendampingan teknis, akses pasar, serta penanganan kesehatan hewan agar populasi kambing tumbuh stabil, tidak lagi naik-turun tajam seperti pada periode 2021-2025.
Dengan pengelolaan yang lebih terarah, ternak kambing berpotensi menjadi salah satu andalan ekonomi rakyat Dompu, sejajar dengan sapi yang selama ini menjadi komoditas unggulan daerah.
Peran Pemerintah Daerah
Ilham, menyebut sektor peternakan di Dompu terus bergerak aktif, salah satunya lewat program pengiriman ternak untuk kebutuhan kurban ke wilayah Jabodetabek. Pada 2026, Dompu mendapat kuota pengiriman ternak sebanyak 13.500 ekor, dengan populasi ternak keseluruhan di kabupaten ini disebutnya mencapai sekitar 200 ribu ekor sapi, 15 ribu ekor kerbau, dan 90 ribu ekor kambing.
Angka populasi kambing versi Dinas Peternakan tersebut memang sedikit lebih tinggi dibanding data tabel populasi ternak 2025 (71.146 ekor). Selisih ini wajar terjadi karena perbedaan waktu pendataan serta sifat populasi kambing yang cepat berubah mengikuti siklus kelahiran, penjualan, dan pemotongan sepanjang tahun berjalan. (Idin)
21,615 total views, 21,615 views today









