DOMPU — Pelayanan kesehatan jiwa di tingkat pertama menjadi tumpuan utama dalam penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Dompu. Keberadaan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang tersebar di seluruh kecamatan memainkan peran vital untuk memastikan pasien gangguan jiwa memperoleh hak atas layanan medis yang layak tanpa harus terpisah jauh dari lingkungan keluarga mereka.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Hj. Maria Ulfa, menegaskan bahwa penanganan ODGJ sepenuhnya masuk dalam jangkauan layanan kesehatan primer. Puskesmas berfungsi sebagai garda terdepan yang berhadapan langsung dengan dinamika sosial di masyarakat.
“Layanan ini dirancang agar pasien bisa mengakses obat-obatan secara rutin dan mendapatkan pendampingan medis yang berkelanjutan di wilayahnya masing-masing,” ungkap Umi Ulfa biasa Kabid P2P ini disapa.
Angka Kasus dan Tantangan di Lapangan
Berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu hingga bulan September 2026, tercatat sebanyak 925 warga terdata sebagai penderita gangguan jiwa. Dari keseluruhan jumlah tersebut, mayoritas berada dalam pemantauan tim medis puskesmas.
“Ada 14 pasien yang memerlukan penanganan khusus tingkat lanjut dan telah dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma di Mataram,” jelas Umi Ulfa.
Jumlah 925 pasien ini memperlihatkan betapa besarnya beban pelayanan yang harus dipikul oleh fasilitas kesehatan dasar. Setiap puskesmas dituntut memiliki kesiapan sarana, ketersediaan obat psikotropika yang stabil, serta tenaga medis yang terlatih.
Penanganan gangguan jiwa membutuhkan konsistensi pengobatan yang tidak boleh terputus. Ketika pasokan obat terhenti, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat dan memicu kembali gejala kekambuhan.
Proses rujukan 14 pasien ke RSJ Mutiara Sukma juga menandakan adanya keterbatasan fasilitas penanganan intensif di tingkat daerah. Rumah sakit rujukan jiwa provinsi tersebut berlokasi cukup jauh di Pulau Lombok. Hal ini membawa tantangan tersendiri, terutama terkait beban biaya transportasi dan logistik keluarga yang mendampingi pasien selama masa perawatan di luar daerah.
Peran Puskesmas dan Keluarga
Puskesmas bertugas menjalankan fungsi skrining awal, pemberian obat rutin, hingga edukasi kepada masyarakat sekitar. Petugas kesehatan di puskesmas kerap kali turun langsung ke desa-desa untuk memantau kondisi pasien yang kesulitan datang ke fasilitas kesehatan. Pendekatan proaktif ini menjadi penentu utama agar pasien tidak ditelantarkan atau mengalami perlakuan salah seperti pemasungan. “Syukurnya di Kabupaten Dompu, sudah tidak ada ODGJ yang dipasung,” ujarnya.
Kerja keras tenaga medis di puskesmas membutuhkan dukungan penuh dari lingkungan keluarga. Pasien ODGJ bergantung pada kedisiplinan anggota keluarga dalam meminumkan obat sesuai dosis dan jadwal dari dokter. Tanpa pengawasan ketat di rumah, proses pemulihan medis sering kali terhambat. Keluarga menjadi benteng pertama yang menentukan apakah seorang pasien bisa stabil atau kembali mengalami krisis kesehatan jiwa.
Stigma negatif di tengah warga kerap menjadi penghambat utama pengobatan. Banyak keluarga merasa malu memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa, sehingga memilih menyembunyikan kondisi tersebut ketimbang membawanya ke puskesmas. Situasi ini membuat penanganan medis terlambat dan memperberat kondisi kesehatan pasien saat akhirnya ditemukan oleh petugas lapangan.
Kebutuhan Penguatan Layanan
Upaya Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu melalui jaringan puskesmas membutuhkan penguatan dari berbagai sektor. Ketersediaan anggaran untuk program kesehatan jiwa, pelatihan kapasitas bagi perawat puskesmas, serta jaminan ketersediaan obat psikotropika skala penuh menjadi syarat mutlak. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa alokasi sumber daya untuk sektor kesehatan jiwa sebanding dengan besarnya angka kasus yang terdata.
Penguatan jaringan kerja sama dengan pemerintah desa dan tokoh masyarakat lokal juga sangat diperlukan. Kepala desa dan kader kesehatan bisa membantu memetakan keberadaan warga yang membutuhkan bantuan medis jiwa secara lebih cepat. Informasi awal dari tingkat RT dan desa mempercepat langkah intervensi puskesmas sebelum kondisi pasien memburuk.
Penanganan ODGJ di Kabupaten Dompu merupakan ujian nyata bagi efektivitas fasilitas kesehatan dasar. Dengan angka 925 pasien yang terdata hingga September, Puskesmas di seluruh Dompu memikul tanggung jawab besar untuk menghadirkan layanan kesehatan yang manusiawi, merata, dan mudah dijangkau oleh seluruh warga. Pemulihan kesehatan jiwa warga adalah hak mendasar yang harus dipenuhi secara berkesinambungan melalui penguatan sistem kesehatan di tingkat lokal. (Idin/ad)
1,771 total views, 10 views today









