DOMPU – Sudah menjadi rahasia yang kian benderang bahwa kursi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tak lagi sekadar urusan adu otak, melainkan adu dompet.
Dalam tiga tahun terakhir, percakapan di ruang tamu hingga grup percakapan warga tak lagi melulu soal prestasi akademik anak, melainkan besaran “uang pangkal” tak resmi yang harus disiapkan. Angkanya pun bukan lagi sekadar pemanis, melainkan sudah di taraf yang tidak masuk akal bagi nalar keadilan, Rp30 juta hingga setengah miliar rupiah.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran syahwat pasar. Jika dahulu Fakultas Kedokteran adalah satu-satunya “tambang emas” bagi oknum pemain di kampus, kini Teknik Informatika menyusul sebagai primadona baru.
Dengan banderol Rp200 juta hingga Rp500 juta, kursi TI kini diperjualbelikan bak komoditas mewah. Alasan orang tua pun pragmatis: investasi masa depan di era digital.
Namun, di balik angka-angka fantastis itu, kita sedang mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar uang: integritas generasi masa depan.
Ketika seorang mahasiswa masuk ke universitas melalui pintu belakang yang dikawal oleh oknum pemain, mereka sedang mempelajari satu pelajaran pertama yang paling merusak: bahwa keadilan bisa dibeli.
Kita sedang mendidik calon pemimpin, birokrat, dan profesional untuk menjadi pribadi yang pragmatis, yang kelak saat bekerja hanya akan berpikir bagaimana mengembalikan “modal” yang telah dikeluarkan orang tua mereka. Inilah akar dari lahirnya generasi yang tuna empati, generasi yang mengejar target materi dengan menabrak nilai-nilai etika.
Benarkah ada oknum pemain di dalam Kampus ? Sulit untuk menampik fakta ini ketika celah seleksi jalur mandiri masih menyisakan ruang gelap yang minim transparansi. Selama kriteria kelulusan jalur mandiri bersifat subjektif dan tidak akuntabel, selama itu pula universitas negeri akan tetap menjadi pasar gelap bagi mereka yang punya kuasa uang.
Negara tidak boleh diam melihat institusi pendidikan tinggi bertransformasi menjadi korporasi pemburu rente. Jika jalur masuk ke kampus saja sudah dicemari oleh praktik lancung, maka jangan berharap dari sana akan lahir pejuang keadilan atau inovator yang berhati nurani. (Redaksi)
19,927 total views, 19,927 views today










