DOMPU — Bumi Perkemahan Kecamatan Pekat, Rabu (12/8/2026) menjadi ruang pendidikan terbuka ketika Wakil Bupati Dompu Syirajuddin, SH resmi membuka Kemah Akbar Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Pekat,. Acara ini menjadi panggung uji bagi gagasan lama tentang kepramukaan yang dinilai masih relevan untuk membentuk karakter generasi muda.
Dalam sambutannya, Syirajuddin yang trrnyata adalah juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Pembimbing Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Dompu menyebut bahwa seragam, tenda, dan api unggun hanyalah simbol permukaan. Katanya, esensi kegiatan ini terletak pada proses pembentukan watak, kecerdasan, kemampuan, dan keterampilan generasi muda. Untuk itu pemerintah kabupaten (Pemkab) Dompu akan terus mendorong Pramuka sebagai instrumen pembangunan sumber daya manusia jangka panjang.
Optimisme pejabat daerah terhadap Pramuka sebagai wadah kaderisasi kepemimpinan patut diuji dengan realitas di lapangan. Klaim bahwa nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian akan terbawa hingga ke kehidupan sehari-hari peserta memerlukan mekanisme tindak lanjut yang jelas, bukan harapan normatif dalam pidato pembukaan saja.
Tanpa program pemantauan pascakegiatan, pesan yang disampaikan Wabup berisiko berhenti sebagai retorika seremonial, sama seperti kekhawatiran yang justru diucapkannya sendiri.
Aspek lingkungan menjadi elemen menarik dari rangkaian acara ini. Penanaman 100 pohon kemiri, 20 pohon kelapa, dan 30 pohon alpukat di kawasan Bumi Perkemahan Sori Ni’u menunjukkan upaya mengaitkan kepramukaan dengan isu keberlanjutan lingkungan.
Namun keberhasilan program penghijauan semacam ini kerap ditentukan oleh perawatan pascatanam. Harapannya agar seluruh elemen masyarakat ikut bertanggung jawab merawat ratusan bibit tersebut hingga tumbuh dewasa.
Kunjungan Wabup ke tenda-tenda peserta menampilkan sisi personal kepemimpinan daerah, memperlihatkan interaksi langsung antara pejabat dan generasi muda. Momen semacam ini penting secara simbolik untuk membangun kedekatan emosional, meski dampaknya terhadap kualitas pembinaan karakter peserta sulit diukur hanya dari kunjungan singkat semacam itu.
Pernyataan Syirajuddin soal estafet kepemimpinan turut menyiratkan kesadaran regenerasi di kalangan elite Dompu. Ajakannya agar peserta mempersiapkan diri sejak dini selaras dengan narasi pembangunan sumber daya manusia yang kerap digaungkan pemerintah daerah, namun implementasinya menuntut dukungan anggaran, pelatihan pembina berkelanjutan, serta evaluasi berkala atas kualitas kegiatan kepramukaan di tingkat kecamatan. (Nia)
5,927 total views, 5,927 views today










