MATARAM – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Komisi X DPR RI dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar kegiatan sosialisasi penulisan berita ilmiah populer. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas jurnalis dalam menyajikan karya jurnalisme sains yang akurat di tengah pesatnya ancaman kecerdasan buatan (AI) dan disinformasi.
Peneliti BRIN, Mega Mardita, yang hadir sebagai pemateri menegaskan bahwa media saat ini memiliki peran krusial sebagai agen pengetahuan publik. Menurutnya, hampir seluruh isu publik dewasa ini—mulai dari krisis global, teknologi, hingga kebijakan berbasis data—bersinggungan langsung dengan sains.
Namun, Mega menyoroti masih banyak berita sains yang gagal memikat publik lantaran terlalu teknis dan dipenuhi jargon. Media dituntut untuk mampu menerjemahkan bahasa ilmiah yang rumit menjadi informasi yang aplikatif. “Publik tidak hanya ingin tahu bahwa penelitian dilakukan, tetapi mengapa mereka harus peduli terhadap hasil riset tersebut,” ujar Mega saat menyampaikan materi bertajuk “Jurnalisme Sains di Era AI & Disinformasi” di Mataram.
Guna mengatasi hal tersebut, Mega memperkenalkan formula dasar jurnalisme sains yang menitikberatkan pada tiga elemen utama: temuan, dampak, dan manusia. Hasil riset harus bisa diterjemahkan menjadi manfaat yang konkret bagi masyarakat sehari-hari.
Selain teknik penulisan, peserta juga dibekali cara membaca cepat jurnal ilmiah—meliputi pemahaman abstrak, metode penelitian, hingga kesimpulan. Hal ini penting untuk mencegah pemberitaan berlebihan (overclaim) terhadap hasil riset yang masih prematur atau belum melewati proses uji sejawat (peer review).
Dalam kesempatan yang sama, Mega juga memaparkan ancaman nyata dari teknologi AI dalam ekosistem jurnalistik. Ia menyebutkan potensi manipulasi informasi melalui deepfake audio dan video, kemunculan artikel sintetis, jurnal palsu, hingga fenomena “halusinasi AI”.
“Karena itu, wartawan masa depan dituntut memiliki kemampuan verifikasi berlapis, literasi data, serta kemampuan berpikir kontekstual yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI,” tegas Mega mengingatkan jurnalis untuk tidak menyamakan sekadar korelasi dengan kausalitas.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani atau yang akrab disapa Miq Ari, turut hadir secara virtual melalui sambungan Zoom. Ia menilai kolaborasi antara BRIN, DPR RI, dan PWI NTB ini merupakan langkah strategis untuk membangun literasi publik berbasis riset.
“Di era digital dan perkembangan AI saat ini, wartawan dituntut tidak hanya cepat menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu memverifikasi dan menerjemahkan informasi ilmiah agar mudah dipahami masyarakat,” ungkap Miq Ari.
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Pulau Lombok ini berharap hasil-hasil riset akademik tidak hanya menumpuk di kampus, melainkan bisa dijembatani oleh media agar berdampak luas bagi publik. Ia juga mewanti-wanti insan pers terkait manipulasi konten yang kini semakin sulit dibedakan dari informasi asli.
“Pers harus tetap menjadi penjaga kepercayaan publik. Verifikasi, akurasi, dan etika jurnalistik harus tetap menjadi fondasi utama di tengah banjir informasi digital,” pungkasnya. (Idin/***)
19,253 total views, 19,253 views today










